INILAH.COM,Kupang - Masyarakat NTT belum memiliki minat cukup untuk membaca koran. Karena itu media massa harus memiliki strategi meningkatkan minat baca masyarakat.Gubernur Frans Lebu Raya mengatakan ini pada acara seminar nasionao bertajuk “Pers di Era Demokrasi” yang diselenggarakan oleh Harian Umum Victory News di Kupang, Kamis (26/1).
Kegiatan ini menampilkan tiga pembicara yakni Daniel Tagu Dedo (Dirut Bank NTT), Frans Rengka (Dekan Fakultas Hukum Unwira Kupang) dan M. Qodary (Direktur Lembaga Survey Indobarometer).
Lebu Raya katakan, salah satu strategi untuk meningkatkan minat baca masyarakat terhadap koran adalah menyajikan pemberitaan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Jika pemberitaan yang disajikan media massa mampu menjawabi kebutuhan masyarakat, pasti banyak masyarakat akan membaca media massa tersebut,” ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan pers merupakan salah satu institusi paling penting dalam membangun tiga pilar bangsa, yakni kesejahteraan, demokrasi dan keadilan. Kehadiran suatu media massa dapat mencegah dominasi dan hegemoni dari kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Kehadiran media termasuk HU Vivtory News diharapkan dapat memberi daya tersendiri untuk membangun daerah ini. Suatu daerah akan maju bila ada kerja sama dan kebersamaan yang dibangun secara kuat.
“Kita harus berpikir lebih besar dan selera dalam membangun daerah ini. Kehadiran media ini diharapkan dapat membawa nuansa baru dalam mencerdaskan daerah agar tampil lebih santun, disiplin dan saling menghargai satu sama lain,” tandas Lebu Raya.
Lebih lanjut disampaikan, tak bisa diingkari, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat pesat, melampaui perkembangan bidang lain.
Teknologi informatika sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Demokrasi harus mampu merumuskan masalah menjadi solusi. Jika demokrasi tidak berjalan dalam koridor aturan, akan memunculkan tindakan anarkis.
Lebu Raya tegaskan, semua pihak harus hentikan stigma miskin tapi harus bangkitkan energi dalam diri masyarakat NTT agar menjadi lebih baik. “Pers dalam pemberitaannya harus mampu membangkitkan optimisme dalam diri masyarakat. Kesuksesan dan kelemahan harus ditampilkan secara seimbang,” ujarnya.
Pada kesempatan itu Lebu Raya ungkapkan, secara legal formal, pers telah memahami aturan secara benar. Pertanyaannya, apakah masyarakat dapat memahami mekanisme kerja pers. Karena itu, pers mesti menjaga legal formal dan tetap berada dalam koridor aturan, agar pers tidak disalahkan.
Sementara itu, Pemimpin Umum HU Victory News, Lorens Tato berargumen, kehadiran media ini bukan karena kurangnya media massa di NTT, tapi harus dilihat sebagai munculnya sebuah persaingan untuk menghidupkan. Banyak pihak terutama para elit politik sering tampil dalam kegaduhan. Untuk meminimalisasinya, harus dibangun dialog yang terus menerus.
Lorens menambahkan, Media Indonesia dan Metro TV terlibat dalam perjalanan media ini, tapi hanya sebatas bantuan teknis. Kehadiran media ini juga dimaknai sebagai bangunnya sebuah energi baru yang tidak bergantung pada APBN ataupun APBD. Namun hadir dalam sebuah kemandirian dengan berpegang teguh pada moto jujur dan cerdas. [mor]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar